logo bedah saraf

portal akademik PORTAL
AKADEMIK
usu mail USU
MAIL

usu ocw USU OCW
Publikasi digital gratis dan terbukadapat diakses oleh siapapun dan kapan saja melalui Internet

scientific journal JURNAL ILMIAH
Terdiri dari database berlangganan jurnal ilmiah

usu repository USU REPOSITORY
Terdiri dari karya oleh dan / atau tentang universitas dalam bentuk dokumen elektronik

Sejarah Bedah Saraf FK USU

PELAYANAN BEDAH SARAF AWAL DI MEDAN

Pelayanan bedah saraf di Medan dimulai secara perorangan tatkala pada tahun 1970 Prof.Soewadji Prawirohardjo salah seorang ahli bedah saraf senior, salah seorang dari pionir bedah saraf Indonesia, pindah dari Jakarta ke Medan. Beliau bekerja di Rumah Sakit PTP IX , sekarang Rumah Sakit Tembakau Deli dan sebagai konsultan bedah saraf pada RS.Santa Elisabeth. Beliau melakukan operasi-operasi bedah saraf yang meliputi kasus-kasus trauma, neoplasma dan kelainan kongenital. Prof.Soewadji juga melakukan tindakan diagnostik seperti lumbal punctie, myelography, ventriculography dan ‘direct carotid puncture cerebral angiography’ bersama-sama DR.Dr.Tan Tjin Joe, ahli radiologi di Rumah Sakit Santa Elisabeth. Kemudian pada tahun 1982 beliau pulang kembali ke Jakarta. Dr.Abdul Gofar Sastrodiningrat,SpBSmenyelesaikan pendidikannya sebagai ahli bedah saraf pada akhir tahun 1982 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Atas permintaan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (pada waktu itu Prof.Dr.Bachtiar Fanany Lubis) kepada Prof.Iskarno, Dr.Abdul Gofar Sastrodiningrat,SpBS dipindahkan ke Medan pada bulan September 1983 sebagai ahli bedah saraf di Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

RS elisabeth

PELAYANAN BEDAH SARAF DI MEDAN
Awal yang paling menyulitkan adalah tidak tersedia perangkat diagnostik yang memadai baik di rumah sakit pemerintah, Rumah Sakit Dr.Pirngadi yang waktu itu berfungsi sebagai ‘rumah sakit pendidikan’, maupun di rumah sakit – rumah sakit swasta, kecuali RS.Santa Elisabeth Medan dimana Prof.Soewadji menghibahkan seluruh instrumen milik beliau. Awal pelayanan bedah saraf di Medan tidaklah mudah.Kasus-kasus trauma kepala dirawat oleh semua dokter, dokter saraf, dokter penyakit dalam dan dokter umum.Sangat sulit untuk memulai sosialisasi mengenai ruang lingkup bedah saraf. Di R.S. Santa Elisabeth Medan, instrumen untuk kraniotomi dan laminektomi relatif cukup memadai, karena Prof.Soewadji telah menghibahkan seluruh instrumen milik beliau. Disamping itu direktur RS.St.Elisabeth pada waktu itu, Dr.N.A.Budhiparama memberikan ‘full support’ untuk pelayanan bedah saraf.Beliau bersedia membeli mikroskop ‘Olympus’, membeli beberapa potong instrumen bedah mikro.Pada tahun 1986 dipasang CT-Scan di RS.St.Elisabeth, merupakan CT-Scan pertama diluar pulau Jawa. Perlahan-lahan kesulitan instrumen dapat diatasi dengan pendekatan-pendekatan pada pimpinan rumah sakit dan memberikan ceramah-ceramah ilmiah dirumah sakit – rumah sakit di Langsa, Tebing Tinggi , Pematang Siantar, Kisaran dan tempat-tempat lain.

INSTITUSI BEDAH SARAF PERTAMA DI MEDAN
Atas prakarsa Kepala Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara pada waktu itu, Prof.Dr.Buchari Kasim, ahli Bedah Plastik, pada tahun 1984 dibentuklah SubBagian Bedah Saraf yang bernaung dibawah Bagian Ilmu Bedah FK.USU. Pada tahun 1985 dengan SK.Gubernur Sumatera Utara Bapak Kaharudin Nasution, Dr.Abdul Gofar Sastrodiningrat,SpBS diangkat menjadi Kepala Unit Pelayanan Bedah Saraf Rumah Sakit Dr.Pirngadi Medan. Ini merupakan sebuah peristiwa bersejarah dimana Bedah Saraf mendapat wadah ‘institusional’ baik di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara maupun di rumah sakit pendidikan, RS.Dr.Pirngadi. Setelah terbentuk SubBagian Bedah Saraf maka secara formal ada bimbingan untuk para peserta program studi spesialisasi ilmu bedah dalam bidang bedah saraf secara terstruktur, juga membimbing para koasisten.
Pada tahun 1986 datang Dr.Iskandar Japardi,SpBS.,lulusan Universitas Padjadjaran Bandung yang pada akhir jadwal studinya dikirim ke Amerika Serikat dan Dr.Adril Arsjad Hakim,SpS.,SpBS., lulusan Universitas Airlangga Surabaya. Pada tahun 1986 dipasang alat CT-Scanner pertama kali dirumah sakit St.Elisabeth Medan dan Dr.Tan Tjong Hian, ahli radiologi dikirim ke Tilburg untuk mendapat pelatihan membaca CT-Scan. Secara ‘deskriptif’ operasi-operasi yang dikerjakan, 70% adalah kasus-kasus trauma, 15% meliputi kasus-kasus kelainan kongenital seperti hydrocephalus, hydraencephaly, meningoencephalocele, meningomyelocel, dan craniostenosis. 10% meliputi kasus-kasus perdarahan intracerebral spontan, perdarahan intraventricular.5% meliputi kasus-kasus tumor otak, tumor medula spinalis, kelainan degeneratif HNP. Dengan tiga orang ahli bedah saraf di Medan, dapat dikatakan kualitas pelayanan bedah saraf berangsur-angsur bertambah baik.

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT H.ADAM MALIK MEDAN
Pada tahun 1991 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik rampung dan diresmikan sebagai ‘rumah sakit pendidikan’, sedangkan RS.Dr.Pirngadi menjadi ‘rumah sakit tempat pendidikan’. Sebagai Kepala SMF. Bedah Saraf RSUP.H.Adam Malik ditunjuk Dr.Adril Arsyad Hakim,SpS.,SpBS. Dr.Abdul Gofar Sastrodiningrat,SpBS dan Dr.Iskandar Japardi,SpBS tetap di RS.Dr.Pirngadi. Pada tahun 1995 Dr.Abdul Gofar Sastrodiningrat,SpBS pindah ke RSUP.H.Adam Malik sebagai Kepala Divisi Bedah Saraf yang berada dibawah Departemen Ilmu Bedah FK.USU, sedangkan Dr.Iskandar Japardi,SpBS diangkat sebagai Kepala SMF. Bedah Saraf RS.Dr.Pirngadi.
Kemudian pada tahun 2005 Prof.DR.Dr.Iskandar Japardi,SpBS., bergabung di Divisi Bedah Saraf Departemen Ilmu Bedah FK.USU / RSUP.H.Adam Malik ; sebagai kepala SMF.Bedah Saraf RS.Dr.Pirngadi ditunjuk Dr.Rezeki Sembiring,SpBS., yang kemudian diangkat menjadi staf pengajar luar biasa pada Divisi Bedah Saraf Departemen Ilmu Bedah FK.USU / RSUP.H.Adam Malik. Sementara itu kualits pelayanan di RSUP.H.Adam Malik tambah meningkat, dengan kemampuan mengerjakan beberapa kasus bedah mikro untuk tumor otak dan tumor-tumor medula spinalis. Disamping itu mulai awal tahun 2004, RSUP.H.Adam Malik tercatat sebagai rumah sakit yang paling banyak menangani kasus-kasus trauma kepala, kemungkinan mencapai 80% dari kasus-kasus trauma kepala yang terjadi di Medan dan sekitarnya.

PEMIKIRAN UNTUK MENDIRIKAN SENTRA PENDIDIKAN BEDAH SARAF
Pada tahun 2006 telah ada 4 (empat) spesialis bedah saraf didalam institusi bedah saraf FK.USU, yaitu Prof. Dr. Abdul Gofar Sastrodiningrat,SpBS beserta Prof.DR.Dr.Iskandar Japardi,SpBS dan Prof.Dr. Adril Arsyad Hakim,SpS.,SpBS di RSUP.H.Adam Malik dan Dr.Rezeki Sembiring di RS.Dr.Pirngadi. Sementara itu di rumah sakit tentara RS.Putri Hijau ada Dr.Bayu,SpBS. Dengan 5 (lima) tenaga bedah saraf mulai timbul fikiran untuk mendirikan sentra pendidikan bedah saraf di Fakultas Kedokteran USU. Kasus – kasus bedah saraf mulai bermacam-macam jenisnya dan jumlahnya juga makin bertambah banyak.Kendala saat itu adalah kurangnya sarana diagnostik di rumah sakit pendidikan dan disiplin - disiplin ilmu yang menunjang pendidikan bedah saraf masih dalam pengembangan.Walaupun demikian, kami telah mencetuskan keinginan itu pada pimpinan fakultas dan pimpinan universitas, dan mendapat tanggapan positif.
Dengan usaha yang gigih kami mulai dapat menambah intrumen-instrumen dasar, bedah mikro, spine dan mikroskop.Sementara itu disiplin - disiplin ilmu yang menunjang pendidikan bedah saraf telah berkembang dengan baik, seperti Radiologi, Patologi Anatomi. Pada pertengahan 2006 kami mulai mencoba membuat proposal untuk mendirikan sentra pendidikan bedah saraf. Proposal ini kami diskusikan dengan pimpinan fakultas dan pimpinan universitas, dan kami mendapat dukungan moral yang sangat kuat dari Rektor Universitas Sumatera Utara waktu itu, Prof.Dr.Chaeruddin P.Lubis,DTMH.,SpA(K) dan Dekan Fakultas Kedokteran USU., Prof.Dr.Gontar A.Siregar,SpPD-KGEH. Berulang kali kami mengadakan perbaikan proposal, sampai dapat memenuhi kriteria – kriteria yang ditetapkan oleh Direktorat Jendaral Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional R.I. seperti yang dimaksud dengan SK.No.:108/DIKTI/Kep/2001 tentang Pedoman Pembukaan Program Studi. Kemudian kami melakukan ‘lobbying’ dengan Ketua Kolegium Bedah Saraf Indonesia, Prof.Dr.R.M.Padmosantjojo,SpBS., dan mendapat tanggapan yang sangat positif serta dukungan moral yang kuat.


PERSIAPAN MENDIRIKAN SENTRA PENDIDIKAN BEDAH SARAF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Persiapan utama ialah persiapan fisik sarana pendidikan, tidaklah dapat dilupakan jasa Prof.DR.Dr.Iskandar Japardi,SpBS yang dengan gigih mampu melakukan pendekatan pada pimpinan RSUP.H.Adam Malik sehingga berhasil mendapatkan lokasi kantor dan ruang rawat. Ruang perkantoran terdiri dari, ruang administrasi, ruang pertemuan dan ruang kuliah, ruang Kepala Departemen dan ruang KPS. Ruangan perkantoran dilengkapi dengan wallpaper, ac, komputer di tiap ruangan kerja dan kamar jaga, LCD projector, koneksi internet dan perabot-perabot seperti meja , kursi , dan lemari buku. Persiapan ini sebagian besar dibiayai secara pribadi. Kemudian kami mulai mengumpulkan buku-buku ajar bedah saraf untuk mengisi perpustakaan bedah saraf. Ada yang menyumbangkan milik pribadinya, ada yang membeli buku dengan uang kontong pribadi, ada yang berasal dari ‘downloads’ dari internet. Disamping itu kami mulai mengembangkan konsep kerja sama dengan disiplin – disiplin ilmu lain, terutama dengan Departemen Penyakit Saraf, Departemen Radiologi dan Departemen Patologi Anatomi. Pada tahun 2007 departemen mendapat tambahan spesialis bedah saraf, berturut-turut datang Dr.Ridha Dharmajaya,SpBS., lulusan Universitas Indonesia, Dr.Rr.Suzy Indharty,Mkes.,SpBS., lulusan Universitas Padjadjaran dan Dr.Mahyudanil,SpBS., lulusan Universitas Airlangga.
Persiapan lain yang sangat penting ialah persiapan tata administrasi perizinan mendirikan sentra pendidikan bedah saraf dan pedoman pendidikan bedah saraf. Disiapkan proposal pendirian sentra pendidikan yang sempurna, memenuhi semua persyaratan Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan R.I dan mendapat persetujuan dari Kolegium Bedah Saraf Indonesia. Melalui Pimpinan USU dan Dekan FK.USU, proposal diajukan kepada Dirjen Dikti dan Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia.


VISITASI MAJELIS KOLEGIUM KEDOKTERAN INDONESIA dan KOLEGIUM BEDAH SARAF INDONESIA
Melalui usaha yang gigih dan kemauan yang kuat serta ‘moral support’ dari Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof.Dr.Chaeruddin P.Lubis,DTM&H.,SpA(K) dan Dekan Fakultas Kedokteran USU, Prof.Dr.Gontar A.Siregar,SpPD.,KGEH, akhirnya departemen mendapat surat dari Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia yang isinya akan mengadakan ‘visitasi’ ke Divisi Ilmu Bedah Saraf Departemen Ilmu Bedah FK.USU untuk menilai apakah sudah layak untuk menjadi sentra pendidikan bedah saraf. Dengan perasaan ‘tegang’ kami merampungkan semua sarana pendidikan yang meliputi sarana fisik perkantoran, ruang rapat, ruang tutorial, ruang kepala departemen, ruang ketua program studi, ruang staf dan perpustakaan. Instrumentasi untuk tindakan operasi memang sudah beberapa tahun sebelumnya telah kami persiapkan sebagai sarana pelayanan dan pendidikan, termasuk intrumen bedah mikro, bedah tulang belakang, mikroskop, ‘highspeed drill’ dan ‘cusa’ dan menambah buku-buku ajar bedah saraf di perpustakaan. Pada hari Senin, 14 Agustus 2008, datang tim ‘visitasi’ yang terdiri dari, Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K),Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonsia, Prof.Dr.R.M.Padmosantjojo,SpBS(K), Ketua Kolegium Bedah Saraf Indonesia dan Dr.Setyowidi Nugroho,SpBS(K), Sekretaris Kolegium Bedah Saraf Indonesia.
Pada hari Selasa, 15 Agustus 2008, Tim ‘visitasi’ mengunjungi seluruh ruang perkantoran, ruang rawat bedah saraf, perpustakaan bedah saraf, poliklinik bedah saraf dan kamar bedah. Kemudian Tim ‘visitasi’ mengadakan pertemuan dengan Pimpinan Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik. Akhirnya Tim ‘visitasi’ mengadakan ‘courtesy call’ dengan Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof.Dr.Chaeruddin P.Lubis,DTM&H.,SpA(K) beserta seluruh jajaran stafnya bertempat di Biro Rektor Universitas Sumatera Utra, Jalan Dr.Mansur No.9 Medan. Tim ‘visitasi’ membuat surat kepada Konsil Kedokteran Indonesia dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI yang isinya merekomendasikan pembukaan Program Studi Dokter Spesialis Bedah Saraf yang mandiri pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.


PROGRAM STUDI DOKTER SPESIALIS BEDAH SARAF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pada bulan November 2008 Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional memberikan izin pendirian Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Inilah sentra pendidikan bedah saraf yang ke-empat di Indonesia dan merupakan sentra pendidikan bedah saraf pertama yang berada diluar pulau Jawa. Pada tanggal 3 Desember 2008 berdasarkan SK Rektor USU NO.: 2115/H5.1.R/SK/SDM/2008 diangkat, Prof.DR.Dr.Iskandar Japardi,SpBS(K) sebagai Ketua Departemen Ilmu Bedah Saraf FK.USU., Prof.Dr.Abdul Gofar Sastrodiningrat,SpBS(K) sebagai Ketua Program Studi Ilmu Bedah Saraf FK.USU., Prof.Dr.Adril Arsjad Hakim,SpS.,SpBS., sebagai Sekretaris Program Studi dan Dr.Rr.Suzy Indharty,Mkes.,SpBS sebagai Sekretaris Departemen. Institusi Bedah Saraf secara formal berdiri di Fakultas Kedokteran USU, sebuah catatan kaki didalam sejarah Universitas Sumatera Utara.